Pages - Menu

Thursday, December 26, 2019

Menarik Perhatian Allah

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. —Efesus 2:8
Menarik Perhatian Allah
Dalam buku The Call of Service, Robert Coles meninjau berbagai alasan orang melayani sesamanya. Ia bercerita tentang seorang wanita lanjut usia yang bekerja sebagai supir bus. Wanita itu sangat memperhatikan anak-anak yang diantarnya ke sekolah setiap hari dengan menanyai mereka tentang tugas sekolah dan ikut bersyukur atas keberhasilan mereka. Ia berkata, “Saya mau melihat anak-anak itu berhasil dalam hidup.” Namun, masih ada alasan lain.
Semasa mudanya, ia mendengar perkataan seorang kerabat yang membuatnya sangat terguncang. “Bibiku sering berkata bahwa kita harus melakukan sesuatu untuk menarik perhatian Allah,” katanya kepada Coles. “Jika tidak, Dia tidak akan ingat kepada kita dalam pengadilan akhir!” Karena cemas akan masuk neraka, wanita ini merancang berbagai cara untuk “menarik perhatian Allah”—pergi ke gereja supaya “Dia melihat saya setia” dan bekerja keras melayani orang lain agar Allah “mendengar dari orang lain apa yang saya lakukan.”
Saya sedih membaca kata-katanya. Tidak tahukah wanita itu bahwa ia sudah mendapatkan perhatian Allah? (Mat. 10:30). Tidak pernahkah ia mendengar bahwa Yesus sudah menjamin hasil pengadilan akhir itu, yaitu kebebasan dari hukuman untuk selama-lamanya? (Rm. 8:1). Bagaimana mungkin ia tidak tahu bahwa keselamatan tidak bisa dibeli dengan perbuatan baik, melainkan diberikan cuma-cuma bagi siapa saja yang percaya kepada Yesus? (Ef. 2:8-9)
Kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus telah menjamin masa depan kita bersama Allah dan membebaskan kita untuk melayani orang lain dengan penuh sukacita.—Sheridan Voysey
WAWASAN
Sekitar tahun 60 atau 61 M, Paulus menulis surat kepada jemaat di Efesus–yang sangat ia kasihi–setelah tinggal bersama mereka selama tiga tahun (Kisah Para Rasul 20:17-31). Ia rindu mengadakan kunjungan persahabatan kepada mereka, namun yang terjadi, ia malah dipenjara di Roma “di rumah yang disewanya sendiri” (28:30). Namun, meski harus dipenjara, Paulus bebas menerima tamu, menulis, dan berkhotbah. Sesungguhnya, di sana “dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus” (ay.31). Sambil menunggu diadili di hadapan Kaisar, ia menulis surat kepada jemaat di Filipi, Kolose, dan Efesus. —Alyson Kieda
Mengapa kita mudah jatuh pada pemikiran bahwa perbuatan baik diperlukan agar kita dapat diterima oleh Allah? Bagaimana memahami Injil membantu kita untuk mengasihi orang lain dengan lebih sungguh?
Ya Allah, tolonglah aku untuk mempercayai bahwa Engkau telah melakukan segala sesuatu yang dibutuhkan agar aku dapat diterima oleh-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate