Pages - Menu

Friday, January 3, 2020

Allah Menunggu

Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu. —Yesaya 30:18
Allah Menunggu
Ketika Denise Levertov berumur dua belas tahun, jauh sebelum menjadi penyair terkenal, ia berinisiatif mengirimkan kumpulan puisinya ke penyair besar T. S. Eliot. Setelah menanti-nantikan balasannya, Denise terkejut menerima dua lembar pesan dorongan untuknya yang ditulis Eliot dengan tangannya sendiri. Dalam pengantar buku kumpulan puisinya, The Stream and the Sapphire, Denise menjelaskan bagaimana puisi-puisinya “menelusuri pergeseran keyakinannya dari agnostisisme kepada iman Kristen.” Karena itu, sangat luar biasa menyadari bahwa salah satu puisinya yang berjudul “Annunciation” bercerita tentang penyerahan diri Maria kepada Allah. Di dalamnya dilukiskan bagaimana Roh Kudus tidak ingin memaksa Maria, melainkan Dia rindu agar Maria menerima bayi Kristus dengan kerelaannya sendiri. Dua kata ini muncul di tengah-tengah puisi itu: “Allah menunggu.”
Levertov melihat kisah hidupnya dalam kisah Maria. Allah menunggu dalam kerinduan untuk mengasihinya. Namun, Allah tidak mau memaksanya. Dia menunggu. Nabi Yesaya menggambarkan realita yang sama, bagaimana Allah setia menunggu, menanti dengan semangat meluap-luap, karena ingin mencurahkan kasih-Nya kepada umat Israel. “Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu” (Yes. 30:18). Allah siap mencurahkan segala kebaikan kepada umat-Nya, tetapi Dia menunggu sampai mereka bersedia menerima apa yang Dia tawarkan (ay.19).
Sungguh ajaib bahwa Pencipta kita, Juruselamat dunia, memilih untuk menunggu kita menerima Dia. Allah yang dapat dengan mudah menundukkan kita justru menunjukkan kesabaran dan kerendahan hati. Allah yang Mahakudus terus menunggu kita.—Winn Collier
WAWASAN
Dalam Yesaya 30:18, ada kata yang sama yang dipakai dua kali, yaitu menanti-nantikan (“TUHAN menanti-nantikan” dan “semua orang yang menanti-nantikan Dia”)—demikian juga dalam bahasa aslinya. Dalam satu ayat, kita dapat melihat penantian Allah dan penantian manusia. Yesaya 8:17 juga menggunakan kata ini: “Aku hendak menanti-nantikan TUHAN.” Entah siapa yang menanti-nantikan—Allah atau manusia—kita mendapat untung darinya, dan Allah patut dimuliakan.—Arthur Jackson
Area mana saja dari hidupmu yang masih ditunggu Allah untuk diserahkan kepada-Nya? Bagaimana seharusnya kamu berserah kepada-Nya?
Ya Allah, aku takjub Engkau bersedia menungguku. Aku pun mau percaya kepada-Mu dan menginginkan kehadiran-Mu. Hadirlah seutuhnya bagiku.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate