Pages - Menu

Tuesday, January 28, 2020

Bejana Tanah Liat Antik

Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. —2 Korintus 4:7
Bejana Tanah Liat Antik
Selama bertahun-tahun, saya mengoleksi beberapa bejana tanah liat antik. Yang paling saya sukai adalah bejana yang ditemukan pada sebuah situs yang berasal dari zaman Abraham. Penampakan bejana itu sendiri tidak begitu elok dilihat: kotor, retak-retak, gompal di sana-sini, dan perlu menggosoknya keras-keras agar kembali cemerlang. Saya menyimpannya untuk mengingatkan diri sendiri bahwa saya hanyalah manusia biasa yang terbuat dari tanah. Meskipun rapuh dan lemah, saya membawa harta yang tak ternilai harganya—Yesus. “Harta ini [Yesus] kami punyai dalam bejana tanah liat” (2 Kor 4:7).
Rasul Paulus melanjutkan, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa” (ay.8-9). Ditindas, habis akal, dianiaya, dihempaskan. Semua itu tekanan yang harus ditanggung oleh sebuah bejana. Tidak terjepit, tidak putus asa, tidak ditinggalkan sendirian, tidak binasa. Semua itu adalah dampak dari kuasa dan kesanggupan Yesus yang bekerja dalam diri kita.
“Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami” (ay.10). Itulah ciri sikap Yesus—Dia menyangkal diri setiap hari. Itu juga dapat menjadi ciri sikap kita—kerelaan untuk mematikan kekuatan kita sendiri, supaya kita percaya sepenuhnya bahwa Dia yang hidup di dalam kita cukup bagi kita.
“Supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (ay.10). Inilah hasilnya: keindahan Yesus yang terlihat nyata lewat tubuh kita yang rapuh, bagaikan sebuah bejana tanah liat antik.—David H. Roper
WAWASAN
Panggilan pelayanan Paulus juga melibatkan panggilan untuk menderita (Kisah Para Rasul 9:15-16). Dalam 2 Korintus 1:8-10; 6:4-10; dan 11:23-27, ia menceritakan tentang banyaknya perlawanan, penganiayaan, ancaman, dan bahaya yang telah ia hadapi. Ia melihat kesukaran-kesukaran ini dari sudut pandang Allah dan ingin menekuninya dengan penyertaan Allah (4:14-18). Paulus telah bertekad untuk tidak “tawar hati” (ay.1,16). Di dalam Alkitab, bejana tanah (barang-barang yang terbuat dari tanah liat) digunakan sebagai metafora kelemahan dan ketidakberdayaan manusia (Ayub 4:19; 10:9; Mazmur 31:13; 103:14-15). Dengan menyebut dirinya sebagai “bejana tanah liat” (2 Korintus 4:7), Paulus mengakui kerapuhan dan mortalitasnya. Keyakinannya tidak berakar dari dalam dirinya sendiri, tetapi dalam kedaulatan dan pemeliharaan Allah (ay.7-9), hidup kebangkitan Yesus (ay.10-15), dan pengharapan akan upah di masa depan dan kemuliaan yang kekal (ay.16-18). —K. T. Sim
Bagaimana kamu dapat memenuhi tuntutan yang dibebankan kepadamu? Dari mana kekuatanmu itu berasal?
Ya Allah, aku lemah dan rapuh. Terima kasih karena Engkau sudi tinggal di dalamku. Aku ingin orang melihat Engkau dan kekuatan-Mu dalam diriku.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate