Pages - Menu

Wednesday, January 29, 2020

Hidup dalam Segala Kelimpahan

Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. —Yohanes 10:10
Hidup dalam Segala Kelimpahan
Saat itu tahun 1918, menjelang akhir Perang Dunia ke-1, dan fotografer Eric Enstrom sedang menyusun portfolio karyanya. Ia ingin memasukkan sebuah karya yang menggambarkan kelimpahan di masa yang terasa hampa bagi banyak orang. Ia berhasil menemukan foto yang kini disukai banyak orang tentang seorang lelaki tua berjanggut duduk di sebuah meja dengan kepala tertunduk dan tangan terlipat dalam posisi berdoa. Di hadapannya ada sejilid buku, kacamata, semangkuk bubur, sepotong roti, dan sebilah pisau. Tidak lebih, tetapi juga tidak kurang.
Sebagian orang mengatakan foto itu menggambarkan kekurangan. Namun, maksud Enstorm justru sebaliknya: inilah hidup yang berkelimpahan, yaitu hidup dalam rasa syukur, yang dapat kita alami bagaimanapun keadaan kita. Yesus menyampaikan kabar baik itu dalam Yohanes 10: “mempunyai hidup . . . dalam segala kelimpahan” (ay.10). Kita sering mengecilkan arti kelimpahan itu saat menyamakannya dengan harta yang banyak. Kelimpahan yang Yesus katakan tidak diukur dengan ukuran duniawi seperti kekayaan atau rumah, tetapi lebih kepada hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan yang dipenuhi rasa syukur bahwa Gembala yang Baik memberikan “nyawanya bagi domba-dombanya” (ay.11), dan mempedulikan kita serta menyediakan kebutuhan kita sehari-hari. Itulah hidup berkelimpahan—menikmati hubungan dengan Allah—yang kita semua bisa alami.—John Blase
WAWASAN
Ketujuh pernyataan “Akulah” yang dicatat di dalam Injil Yohanes adalah deskripsi Kristus tentang diri-Nya. Semua itu adalah metafora yang Dia gunakan untuk memberikan gambaran yang melukiskan implikasi dari identitas itu. Yesus berkata, “Akulah roti hidup” (6:35); “pintu” (10:9); “gembala yang baik” (10:11); “kebangkitan dan hidup” (11:25-26); “jalan dan kebenaran dan hidup” (14:6); dan “pokok anggur” (15:5). Dengan mendeskripsikan diri-Nya sebagai pintu (10:7), Dia menyatakan bahwa domba-domba hanya akan menemukan keamanan dan padang rumput ketika mereka masuk melalui-Nya. Lalu, dalam gambaran yang berhubungan dengan itu, Yesus menyebut diri-Nya sang Gembala yang Baik (ay.11). Inilah gambaran tentang kepercayaan dan keintiman. Yesus mengenal domba-domba-Nya secara mendalam dan pribadi, dan memberikan nyawa-Nya bagi mereka ketika ada ancaman menghadang. —J. R. Hudberg
Menurutmu, apakah sekarang kamu mempunyai hidup yang berkelimpahan? Mengapa atau mengapa tidak? Apakah kamu memiliki kecenderungan menyamakan kelimpahan dengan harta yang banyak?
Tuhan, Gembala kami yang baik, terima kasih karena Engkau telah menyerahkan nyawa-Mu untukku, salah satu domba-Mu. Terima kasih juga karena Engkau berjanji akan menyediakan kebutuhan makanan kami yang secukupnya, baik secara jasmani maupun rohani.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate