Pages - Menu

Sunday, January 26, 2020

Membawa Anak kepada Allah

Hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran . . . ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci. —2 Timotius 3:14-15
Membawa Anak kepada Allah
Seorang tokoh ateis secara terus terang meyakini bahwa orangtua yang mengajarkan agama kepada anak-anaknya seolah-olah agama itu benar merupakan tindakan yang tak bermoral. Ia bahkan berpendapat bahwa orangtua seperti itu telah melanggar hak asasi sang anak. Meski pendapat tersebut terdengar ekstrem, saya pernah mendengar sendiri bagaimana sejumlah orangtua ragu untuk terang-terangan mendorong anak-anak mereka mempercayai iman Kristen. Meski sebagian besar dari kita tidak ragu-ragu mempengaruhi anak-anak kita dengan pandangan kita soal politik, gizi, atau olahraga, tetapi entah mengapa sebagian dari kita tidak yakin soal meneruskan keyakinan iman kepada anak-anak.
Sebaliknya, Rasul Paulus menulis bagaimana Timotius sudah diajar “dari kecil . . . mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus“ (2 Tim. 3:15). Iman Timotius tidak terbentuk pada masa dewasa lewat kekuatan rasionya sendiri. Ibunyalah yang menumbuhkan iman kepada Allah dalam hati Timotius, dan Timotius terus berpegang pada apa yang telah ia pelajari (ay.14). Jika Allah adalah kehidupan dan sumber hikmat yang sejati, maka sangatlah penting menumbuhkan kasih kepada Allah dalam kehidupan keluarga kita.
Ada banyak sistem yang sedang mempengaruhi anak-anak kita. Acara TV, film, musik, guru, teman, dan media—semuanya memberikan asumsi tentang iman (baik secara langsung maupun tersamar) yang memberikan pengaruh besar. Tidak seharusnya kita tinggal diam. Keindahan dan anugerah Allah yang telah kita alami mendesak kita untuk mau membawa anak-anak kita kepada Allah.—Winn Collier
WAWASAN
Paulus mengasihi Timotius seperti anaknya sendiri (2 Timotius 1:2) dan menginginkannya bertumbuh dengan kuat dalam kasih dan iman yang patut dipertahankan dalam kehidupan maupun kematian (2:1-3). Namun, meski surat-surat Paulus sering memiliki tema penderitaan dan penganiayaan (1:8-9,11-12,15; 2:8-10; 3:10-12; 4:17-18), tidak berarti sang rasul mencari-cari kesengsaraan itu. Ketika ia mengatakan kepada Timotius bahwa setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Yesus akan menderita aniaya (2 Timotius 3:12), konteksnya adalah sebuah peringatan kepada mereka yang hidup hanya bagi diri sendiri, bahwa ke depannya mereka akan lebih mencelakakan diri sendiri dan orang lain (ay.1-9,13). Paulus mengingatkan Timotius bahwa orang-orang yang menentang mereka bukanlah musuh yang sesungguhnya. Tanpa disadari, orang-orang seperti ini telah dijerat oleh Iblis untuk mengalihkan perhatian dari kebaikan dan rahmat Kristus (2:22-26; Efesus 6:12). —Mart DeHaan
Pikirkan banyaknya pengaruh dan pesan yang diterima anak-anak (dan juga kita semua) dalam satu hari. Bagaimana segala hal itu telah membentukmu dan mereka yang kamu kasihi?
Allah Bapa, kami bersyukur atas sukacita dan kesempatan istimewa untuk menumbuhkan iman percaya anak-anak kami kepada-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate