Pages - Menu

Sunday, February 2, 2020

Saatnya Memakai Hiasan Kepala

Perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung. —Yesaya 61:3
Saatnya Memakai Hiasan Kepala
Pada suatu pagi di bulan Januari, saya bangun tidur dan berharap bakal melihat pemandangan suram pertengahan musim dingin seperti yang sudah terjadi berminggu-minggu: rumput coklat menyembul di sela petak-petak salju, langit kelabu, dan pohon-pohon meranggas. Namun, ada yang tidak biasa terjadi malam sebelumnya. Embun beku menyelimuti semuanya dengan kristal es. Pemandangan muram telah menjadi panorama indah yang berkilauan oleh pantulan cahaya matahari pagi, sehingga saya pun dibuat takjub.
Terkadang kita memandang masalah tanpa membayangkannya dari sudut pandang iman. Kita merasa penderitaan, ketakutan, dan keputusasaan akan menyambut kita setiap pagi, tetapi mengabaikan kemungkinan terjadinya sesuatu yang berbeda. Kita tidak mengharapkan pemulihan, pertumbuhan, atau kemenangan oleh kuasa Allah. Padahal, Alkitab mengatakan bahwa hanya Allah yang menolong kita melewati masa-masa sulit. Dia memulihkan hati yang hancur dan membebaskan manusia dari keterikatan. Dia menghibur mereka yang berduka dengan memberikan “perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar” (Yes. 61:3).
Ini bukan berarti Allah hanya ingin menyemangati kita yang sedang menghadapi masalah. Akan tetapi, Dia sendirilah yang menjadi harapan kita di tengah pencobaan. Sekalipun kita harus menunggu sebelum mengalami kelepasan yang sesungguhnya di dalam surga, Allah senantiasa menyertai kita, menguatkan kita, dan sering kali mengizinkan kita melihat sekilas keberadaan diri-Nya. Dalam perjalanan hidup ini, kiranya kita dapat memahami ucapan Santo Agustinus: “Dalam lukaku yang terdalam, kulihat kemuliaan-Mu, dan itu membuatku terpesona.”—Jennifer Benson Schuldt
WAWASAN
Lebih dari tujuh abad setelah kitab Yesaya ditulis, Lukas menulis bahwa ketika Yesus berdiri untuk membaca Kitab Suci di sinagoge di kampung halaman-Nya, Nazaret, “kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya” (Lukas 4:17). Berdiri untuk membaca (ay.16) adalah praktik umum pada zaman itu (dan juga duduk untuk mengajar, ay.20). Ketika Yesus membaca nats yang kita kenal sebagai Yesaya 61:1-2, Dia tidak membaca bagian kedua dari ayat 2—“dan hari pembalasan Allah kita.” Mungkin Dia berhenti membaca karena fokus pelayanan-Nya bukanlah menghukum Israel maupun musuh-musuhnya. Dia datang untuk menyelamatkan; fokus-Nya adalah penyelamatan, seperti yang dapat dilihat dari semua karya-Nya yang membebaskan beserta kematian dan kebangkitan-Nya (lihat Lukas 19:10).—Arthur Jackson
Bagaimana kamu dapat berpaling kepada Allah saat berada dalam kesulitan? Apa upah yang dapat kita terima dari keputusan untuk mengandalkan Allah itu?
Allah yang setia, berikanlah iman yang kuperlukan untuk menjalani hari ini dan tolong aku melihat-Mu berkarya di tengah kesulitan yang kuhadapi.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Translate