Pages - Menu

Wednesday, March 11, 2020

Dia Tahu Semuanya

Kebijaksanaan-Nya tak terhingga.—Mazmur 147:5
Dia Tahu Semuanya
Kami memelihara Finn, seekor ikan cupang hias, di rumah kami selama dua tahun. Anak perempuan saya kerap membungkukkan badan di atas akuarium dan mengajaknya ngobrol setelah memberinya makan. Ketika ada topik tentang hewan peliharaan di taman kanak-kanaknya, ia dengan bangga bercerita tentang Finn. Pada suatu hari, Finn mati, dan putri saya sedih sekali.
Ibu saya menasihati agar saya sungguh-sungguh mendengarkan perasaan anak saya dan mengatakan kepadanya, “Tuhan sangat tahu perasaanmu.” Saya sependapat bahwa Allah tahu segala-galanya, tetapi juga bertanya-tanya dalam hati, Bagaimana mungkin hal itu dapat menghibur hati anak saya? Lalu, terpikir oleh saya bahwa Tuhan tidak hanya tahu segala peristiwa dalam hidup kita—dengan penuh belas kasihan Dia melihat ke dalam jiwa kita dan tahu bagaimana peristiwa-peristiwa itu mempengaruhi kita. Dia mengerti bahwa “hal-hal kecil” sekalipun dapat terasa besar tergantung dari usia kita, pengalaman luka batin di masa lalu, atau kekurangan jasmani yang kita alami.
Yesus melihat kebesaran sesungguhnya dari persembahan yang diberikan oleh seorang janda—dan juga kebesaran hatinya—ketika ia memasukkan dua keping uang ke dalam kotak persembahan di Bait Allah. Yesus menggambarkan makna persembahan itu bagi si janda dengan berkata, “Janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. . . . [Ia memberi] seluruh nafkahnya” (Mrk. 12:43-44).
Janda itu tidak bercerita tentang keadaan hidupnya tetapi Yesus mengerti bahwa jumlah persembahan yang mungkin kecil dan tak berarti bagi orang lain sebenarnya adalah suatu pengorbanan besar baginya. Tuhan melihat hidup kita dengan cara yang sama. Kiranya kita terhibur oleh pengertian-Nya yang tidak terbatas atas hidup kita—Jennifer Benson Schuldt
WAWASAN
Kata peti persembahan dalam Markus 12:41 dan 43 merupakan terjemahan dari kata gazophulakion; yang berasal dari gaza, “harta” dan phulake, “tempat sesuatu dijaga.” Ketika digabungkan menjadi bermakna “rumah harta.” Kata ini digunakan oleh sejarawan Yahudi dari abad pertama, Yosefus, untuk merujuk pada “sebuah ruangan khusus dalam pelataran para wanita (Women’s Court) di Bait Allah tempat batangan emas dan perak disimpan” (Vine’s Complete Expository Dictionary). Orang-orang non-Yahudi diperbolehkan memasuki Bait Allah, tetapi hanya boleh sampai ruangan yang dinamakan Pelataran Kaum Non-Yahudi (Court of the Gentiles). Para wanita diperbolehkan masuk lebih dalam, tetapi hanya sampai Pelataran Para Wanita. Di dalam Pelataran Para Wanita ada tiga belas peti berbentuk trompet tempat orang-orang memasukkan persembahan mereka. Dicatat bahwa dari ketiga belas peti tersebut, enam adalah untuk persembahan umum dan tujuh adalah untuk persembahan khusus. Sang janda yang dilihat oleh Yesus di Bait Allah memasukkan uangnya ke dalam salah satu peti tersebut. —Arthur Jackson
Bagaimana kamu menunjukkan belas kasihan kepada seseorang yang kecewa karena masalah “kecil”? Bagaimana respons Allah saat kamu mencurahkan pergumulan kamu kepada-Nya?
Ya Allah, terima kasih Engkau mengenalku sepenuhnya dan tetap mengasihiku. Tolong aku merasakan penghiburan-Mu saat aku menyadari pengenalan-Mu yang tidak terbatas akan hidupku.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate