Pages - Menu

Sunday, April 19, 2020

Prediksi yang Salah

Nabi yang mendapat pesan dari Aku haruslah menyampaikan pesan itu dengan sebenarnya.—Yeremia 23:28 BIS
Prediksi yang Salah
Pada tengah hari tanggal 21 September 1938, seorang ahli meteorologi muda memperingatkan Badan Meteorologi AS tentang badai topan yang mengarah ke utara menuju wilayah New England. Namun, kepala lembaga itu mencemooh prediksi Charles Pierce. Baginya tidak mungkin badai tropis akan bergerak hingga sejauh itu ke arah utara.
Namun, dua jam kemudian, badai topan dahsyat pun datang menyapu area Long Island. Pada pukul empat sore, badai tersebut telah sampai di New England dan menghempaskan banyak kapal ke darat serta meruntuhkan bangunan-bangunan ke laut. Korban tewas mencapai lebih dari 600 orang. Seandainya para korban menerima peringatan Pierce—yang dibuat berdasarkan data yang akurat dan peta yang terperinci—mungkin mereka akan selamat.
Kitab Suci menasihati kita untuk mengetahui perkataan siapa yang memang patut didengar. Pada zaman Nabi Yeremia, Allah memperingatkan umat-Nya untuk mewaspadai nabi-nabi palsu. “Jangan dengarkan perkataan para nabi yang selalu hanya memberi harapan yang kosong. Mereka hanya menyampaikan khayalan mereka sendiri dan bukan pesan-Ku” (Yer. 23:16 BIS). Allah berkata tentang mereka, “Andaikata mereka tahu apa yang terkandung dalam pikiran-Ku, tentulah mereka telah menyampaikan kepada umat-Ku segala yang telah Kuucapkan” (ay.22 BIS).
“Nabi-nabi palsu” masih ada. Mereka memberikan nasihat tetapi mengabaikan Allah sama sekali atau memutarbalikkan kata-kata-Nya demi tujuan mereka. Namun, melalui firman dan Roh-Nya, Allah telah memberikan apa yang kita perlukan untuk membedakan yang salah dan yang benar. Ketika kita mengukur segalanya dengan kebenaran firman-Nya, perkataan dan kehidupan kita sendiri akan semakin mencerminkan kebenaran itu kepada orang lain.—Tim Gustafson
WAWASAN
Di Yeremia 23, melalui Nabi Yeremia, Allah menegur para “gembala” (para raja dan imam, ay.1-2) dan nabi-nabi (ay.9-40) karena ketidaktaatan mereka dan karena mereka menyesatkan bangsanya. Para gembala dipanggil untuk menjadi pemimpin kudus yang memimpin dan melindungi; namun, mereka malah menghancurkan dan menyerakkan “kambing domba gembalaan [Allah]” (ay.1). Alih-alih menyampaikan kebenaran Allah, para nabi itu malah “bernubuat demi Baal dan menyesatkan umat-Ku Israel” (ay.13). Mereka “berkelakuan tidak jujur” dan “menguatkan hati orang-orang yang berbuat jahat, sehingga tidak ada seorangpun yang bertobat dari kejahatannya” (ay.14). Allah mengingatkan umat-Nya untuk tidak mendengarkan nabi-nabi palsu yang tidak berbicara atas nama Allah dan hanya menawarkan “harapan yang sia-sia” (ay.16). Karena menolak mendengar, Yehuda akan diasingkan ke tangan Babel. Namun Allah tidak akan melupakan mereka untuk selama-lamanya (ay.3-8).—Alyson Kieda
Standar apa yang saya gunakan saat memutuskan sesuatu itu benar atau tidak? Adakah yang perlu diubah dari sikap saya terhadap mereka yang tidak sependapat dengan saya?
Ya Allah, begitu banyak orang yang mengaku berbicara atas nama-Mu. Bantu kami mengenali apa yang benar-benar Engkau katakan. Jadikan kami peka kepada Roh-Mu, dan bukan kepada roh dunia ini.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate