Pages - Menu

Saturday, June 27, 2020

Cinta yang Diwariskan

Aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois . . . ibumu Eunike dan . . . yang hidup juga di dalam dirimu.—2 Timotius 1:5
Cinta yang Diwariskan
Putri saya sangat menyukai novel detektif remaja Nancy Drew. Selama tiga minggu terakhir, ia sudah membaca setidaknya selusin novel tentang gadis detektif itu. Kecintaannya pada cerita-cerita detektif menurun dari kecintaan saya dan ibu saya terhadap kisah Nancy Drew. Bahkan, serial novel bersampul biru yang dibaca ibu saya pada dekade 1960-an masih terpajang rapi di lemari bukunya.
Menyadari bahwa kecintaan seperti itu diwariskan, saya pun berpikir-pikir apa lagi yang sebenarnya saya turunkan kepada anak saya. Dalam suratnya yang kedua, Paulus menulis bahwa setiap kali teringat pada Timotius, ia teringat pula pada iman “tulus ikhlas” yang dimiliki nenek dan ibu Timotius. Selain soal kecintaan pada kisah-kisah misteri, saya berharap putri saya juga mewarisi iman—bahwa kelak ia juga akan “melayani” seperti kakek-neneknya, bahwa ia akan tekun berdoa, dan bahwa ia akan terus berpegang pada “janji tentang hidup dalam Kristus Yesus” (2 Tim. 1:1).
Saya juga melihat adanya harapan bagi mereka yang orangtua atau kakek-neneknya tidak mengenal Tuhan Yesus. Meski ayah Timotius tidak disebutkan, Paulus menyebut Timotius sebagai “anak[-nya] yang kekasih” (ay.2). Orang-orang dengan latar belakang keluarga yang tidak mengenal Kristus masih dapat memiliki orangtua dan kakek-nenek rohani di gereja—yaitu orang-orang yang menolong kita memahami jalan hidup dalam “panggilan kudus” (ay.9) agar kita menerima karunia “kekuatan, kasih dan ketertiban” dari Allah (ay.7). Syukur kepada Allah, kita semua telah menerima warisan yang indah. —Amy Peterson
WAWASAN
Dalam tulisan Paulus yang dikenal sebagai surat terakhirnya, sang rasul terdengar hangat dan akrab meskipun ia pasti menyadari bahwa sebentar lagi ia akan dihukum mati. Setelah memuji nenek dan ibu Timotius, Paulus menyinggung air mata anak rohaninya (2 Timotius 1:4). Apakah yang menyebabkan Timotius menangis? Kita tidak tahu pasti, tetapi kemungkinan Timotius sedih ketika mereka berpisah sebelumnya. Begitu juga ketika Paulus mengucapkan selamat tinggal kepada sekelompok orang percaya di Miletus (lihat Kisah Para Rasul 20:37-38). Para pengikut Yesus itu tahu bahwa mereka tidak akan bertemu lagi dengan Paulus. Namun, sang rasul berharap bisa bertemu lagi dengan Timotius dalam hidupnya. Dalam komentar penutupnya, ia menulis, “Berusahalah supaya segera datang kepadaku” (2 Timotius 4:9)—suatu kerinduan yang manusiawi dan mengharukan dari seorang tahanan yang sudah lansia. —Tim Gustafson
Pelajaran apa saja yang kamu petik dari para leluhur iman kita? Bagaimana kamu dapat berjuang untuk mewariskan iman kepada anak-anakmu sendiri atau orang-orang di gerejamu?
Bapa surgawi, aku bersyukur karena Engkau menyelamatkan aku dengan kasih karunia melalui iman kepada Yesus Kristus. Tolonglah aku mewariskan anugerah serta kebenaran Injil yang telah kuterima ini kepada generasi berikutnya.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate