Pages - Menu

Sunday, September 13, 2020

Sirip yang Menjaga

 

Apakah aku penjaga adikku? —Kejadian 4:9

Sirip yang Menjaga

Seorang ahli biologi kelautan sedang berenang dekat Kepulauan Cook di Pasifik Selatan ketika seekor paus bungkuk berbobot dua puluh tiga ton tiba-tiba muncul dan mengempit dirinya di bawah siripnya. Perempuan itu mengira ia bakal mati. Namun, setelah berenang perlahan dengan berputar-putar, akhirnya paus itu melepaskannya. Saat itulah si ahli biologi melihat seekor hiu harimau berenang menjauh. Ia yakin paus tadi bermaksud menjaganya dari bahaya yang mengancam nyawa.

Dalam dunia yang penuh bahaya ini, kita dipanggil untuk saling menjaga. Namun, mungkin kamu bertanya dalam hati, Benarkah aku diharapkan untuk bertanggung jawab atas diri orang lain? Atau seperti kata Kain, “Apakah aku penjaga adikku?” (Kej. 4:9). Jawaban yang kita temukan di hampir setiap kitab dalam Perjanjian Lama adalah: Ya! Seperti Adam bertanggung jawab merawat Taman Eden, demikian pula Kain seharusnya menjaga Habel. Bangsa Israel diperintahkan untuk memperhatikan orang-orang yang lemah dan memelihara hidup mereka yang berkekurangan. Namun, mereka justru melakukan yang sebaliknya—memeras rakyat, menindas orang miskin, dan mengabaikan panggilan untuk mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (Yes. 3:14-15).

Namun, dalam kisah Kain dan Habel, Allah tetap menjaga Kain sekalipun ia diasingkan (Kej. 4:15-16). Allah melakukan untuk Kain apa yang seharusnya Kain lakukan bagi Habel. Kelak, hal yang indah itu juga dilakukan Allah bagi kita lewat kedatangan Yesus ke dunia. Tuhan Yesus menjaga dan memelihara kita, serta memampukan kita untuk ikut menjaga sesama kita.—Glenn Packiam

WAWASAN
Kejadian 2 menggambarkan bagaimana Allah menempatkan Adam dan Hawa di dalam taman untuk mengusahakan dan memeliharanya. Sebaliknya, taman itu akan memberikan mereka segala makanan yang mereka butuhkan. Akan tetapi, dosa mengusik relasi timbal balik antara manusia dan bumi tersebut. Ketika Adam dan Hawa berdosa, salah satu konsekuensinya adalah bahwa bumi ini tidak akan berbuah selebat seperti waktu sebelum ada dosa. “Semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkan [bumi] bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu” (Kejadian 3:18). Hubungan yang rusak dengan tanah juga menjadi konsekuensi bagi Kain ketika Allah menghukumnya karena membunuh Habel. Allah berkata bahwa tanah itu tidak akan lagi menghasilkan baginya (4:12). Kain membasahi tanah dengan darah adiknya dan tanah itu menjadi tandus baginya. —J.R. Hudberg

Siapa yang dipercayakan Allah kepadamu untuk dijaga? Bagaimana kamu telah melakukan tanggung jawab tersebut? Pernahkah kamu mencoba mengelak atau menghindarinya?

Allah yang pengasih, terima kasih atas pemeliharaan-Mu kepadaku. Engkau menjaga dan memeliharaku. Tolonglah aku melakukan yang sama kepada sesamaku.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate