Pages - Menu

Monday, September 28, 2020

Tak Pernah Merasa Cukup

 

Mata kita tidak kenyang-kenyang memandang.— Pengkhotbah 1:8 BIS

Tak Pernah Merasa Cukup

Frank Borman pernah menjadi komandan misi pertama ke luar angkasa untuk mengelilingi bulan. Ia mengaku tidak terkesan pada apa yang dilihatnya. Perjalanan pulang-pergi itu membutuhkan waktu dua hari penuh. Frank sempat mabuk udara dan muntah. Ia berkata bahwa melayang-layang dalam kondisi gravitasi nol memang mengasyikkan—tetapi untuk tiga puluh detik saja. Sesudah itu biasa saja. Dari dekat, bulan terlihat tidak menarik dan permukaannya bopeng-bopeng karena penuh kawah. Awak pesawatnya mengambil foto-foto hamparan permukaan bulan, lalu menjadi bosan juga.

Frank pergi ke tempat yang tidak pernah didatangi orang sebelumnya. Itu pun tidak cukup baginya. Jika ia cepat merasa bosan atas suatu pengalaman yang langka di luar angkasa, mungkin kita tidak perlu terlalu berharap pada hal-hal yang ada di dunia ini. Penulis kitab Pengkhotbah mengamati bahwa tidak ada pengalaman di dunia ini yang mampu mendatangkan sukacita sejati. “Mata kita tidak kenyang-kenyang memandang; telinga kita tidak puas-puas mendengar” (1:8 bis). Bisa saja kita senang untuk sementara waktu, tetapi kegembiraan itu segera reda dan kita pun mulai mencari kesenangan di tempat lain.

Frank merasakan satu momen menggembirakan, yaitu ketika ia melihat bumi terbit dari kegelapan di balik bulan. Bagaikan sebutir kelereng berwarna biru-putih, bumi kita terlihat cemerlang oleh sinar matahari. Demikian pula sukacita kita yang sejati berasal dari Anak Allah yang menyinari kita. Yesus adalah hidup kita, satu-satunya sumber makna, kasih, dan keindahan sejati. Kepuasan kita yang terdalam datang dari luar dunia ini. Masalahnya, kita bisa saja pergi sampai ke bulan, tetapi tetap tidak akan dapat menemukan kepuasan itu.—Mike Wittmer

WAWASAN
Salah satu tema kunci dari kitab Pengkhotbah terdapat dalam frasa “di bawah matahari.” Frasa tersebut ada di bacaan hari ini di ayat 3 dan 9, juga dalam dua puluh lima penyebutan lainnya dalam kitab ini. Apakah artinya? Frasa ini mengacu kepada hal-hal yang dilakukan di dunia menurut sistem, nilai, dan pola pikir dunia ini. Apa yang terjadi “di bawah matahari” diperlihatkan bertolak belakang dengan apa yang berakar dan selaras dengan kehendak surgawi. Karena Pengkhotbah adalah kitab tentang kenestapaan, pesan intinya adalah bahwa kita tidak akan dapat menemukan arti atau tujuan sejati sampai kita mulai hidup sesuai dengan kehendak Bapa di surga, daripada mengikuti sistem dunia yang telah rusak ini. —Bill Crowder

Kapan kamu pernah merasakan sukacita yang sangat besar? Mengapa sukacita itu tidak bertahan lama? Apa yang kamu dapat pelajari dari sifat kegembiraan yang hanya sesaat itu?

Yesus, pancarkanlah sinar kasih-Mu ke atasku.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate