Pages - Menu

Saturday, October 31, 2020

Puing-Puing dan Allah

 

Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan! —Ayub 1:21

Puing-Puing dan Allah

Setelah mendoakan apa yang Allah kehendaki untuk mereka lakukan di masa depan, Mark dan Nina yakin bahwa mereka harus pindah dan tinggal di pusat kota. Mereka baru saja membeli sebuah rumah kosong dan merenovasinya ketika badai tornado datang menerjang. Mark mengirim pesan kepada saya: “Kami mendapat kejutan pagi ini. Tornado yang baru melanda Jefferson City telah menghancurkan rumah kami hingga tinggal puing-puing. Allah pasti sedang merencanakan sesuatu.”

Bukan hanya badai yang dapat datang dengan tak terduga dan menyebabkan kekacauan dalam hidup kita. Namun, salah satu kunci untuk bertahan adalah dengan tetap berfokus kepada Allah di tengah malapetaka yang kita derita.

Angin ribut yang melanda hidup Ayub telah membuatnya kehilangan harta benda dan menyebabkan kematian anak-anaknya (Ayb. 1:19). Namun, ternyata itu hanya satu dari serangkaian kejutan mengerikan yang dialaminya. Sebelum itu, tiga orang sudah datang membawakan kabar buruk baginya (ay.13-17).

Kapan saja, hidup kita bisa tiba-tiba berubah, dari sukacita kepada dukacita, dari mensyukuri kehidupan kepada menghadapi kematian, atau bermacam tantangan hidup lainnya. Hidup kita bisa tiba-tiba hancur menjadi “puing-puing”—entah dalam kondisi keuangan, hubungan dengan orang lain, kesehatan, pergumulan emosional, maupun tantangan spiritual. Namun, Allah lebih besar daripada badai apa pun. Untuk melewati cobaan hidup kita membutuhkan iman yang berpusat kepada-Nya—iman yang memampukan kita untuk berkata seperti Ayub dan umat Tuhan lainnya, “Terpujilah nama Tuhan!” (ay.21).—Arthur Jackson

WAWASAN
Kapan kisah Ayub terjadi? Beberapa faktor mengacu kepada era para leluhur, sejajar dengan masa hidup Abraham (kira-kira 2000 SM), sehingga kitab Ayub dianggap sebagai salah satu yang tertua dalam Alkitab. Kita melihat adanya tata cara hidup keluarga kuno, seperti kekayaan yang diukur menurut jumlah ternak dan budak, dan bukan dengan emas dan perak (Ayub 1:3; 42:12; Kejadian 12:16). Disebutkan pula tentang para pengembara Kasdim (Ayub 1:17), dan Ayub masih hidup 140 tahun setelah pemulihannya, sehingga ia dapat “melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat” (42:16). Ayub dipuji sebagai seorang yang “saleh dan jujur; . . . takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (1:1). Beribu-ribu tahun kemudian ia dipuji sebagai contoh hidup benar (Yehezkiel 14:14,20) dan teladan “ketekunan” dengan iman yang tidak bergeming kepada Allah (Yakobus 5:11). —K.T. Sim

Apa yang telah menolongmu memusatkan pandangan kembali kepada Allah? Apa saja pelajaran dari kisah Ayub yang dapat menolongmu melewati badai hidup yang menghadang?

Ya Bapa, ampunilah aku karena sering melepaskan pandanganku dari-Mu pada masa-masa sulit dalam hidupku. Tolonglah aku agar dapat memandang-Mu kembali dengan cara yang baru.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate