Pages - Menu

Friday, October 30, 2020

Setiap Orang Butuh Mentor

 

Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama. —Titus 1:4

Setiap Orang Butuh Mentor

Saat berjalan menuju kantor atasan saya yang baru, saya dipenuhi rasa khawatir dan waswas. Atasan saya sebelumnya sering memperlakukan bawahannya dengan sikap keras dan merendahkan, sehingga tidak jarang saya (dan rekan-rekan lain) menangis dibuatnya. Sekarang saya bertanya-tanya, Seperti apakah atasan yang baru ini? Namun, begitu saya memasuki ruang kerja atasan saya yang baru, ketakutan saya hilang. Beliau menyambut saya dengan hangat dan meminta saya bercerita tentang diri saya serta apa saja yang membuat saya merasa frustrasi. Ia mendengarkan dengan saksama, dan melalui raut wajahnya yang baik hati dan kata-katanya yang lembut, saya tahu ia benar-benar peduli. Selain sebagai saudara seiman dalam Tuhan, ia pun menjadi mentor, penyemangat, sekaligus sahabat saya di kantor.

Rasul Paulus adalah mentor rohani bagi Titus, “anakku yang sah menurut iman kita bersama” (Tit. 1:4). Lewat surat dari Paulus, Titus menerima perintah dan arahan yang bermanfaat untuk tanggung jawabnya di dalam gereja. Paulus tidak hanya mengajar, tetapi juga memberi contoh bagaimana memberitakan “apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (2:1), menjadi “teladan dalam berbuat baik, . . . jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu” (ay.7-8). Demikianlah Titus menjadi mitra pelayanan, saudara seiman, dan rekan kerja Paulus (2 Kor. 2:13; 8:23)—dan juga mentor bagi yang lain.

Banyak di antara kita pernah merasakan manfaat dibimbing oleh mentor—baik itu guru, pelatih, kakek atau nenek, pembina pemuda, atau gembala gereja—yang mengarahkan kita dengan pengetahuan, kebijaksanaan, dorongan semangat, dan iman kepada Allah. Siapa saja yang mungkin akan menerima manfaat dari pelajaran-pelajaran rohani yang telah kamu peroleh selama berjalan bersama Tuhan Yesus?—Alyson Kieda

WAWASAN
Kata bijaksana yang dipakai dalam bagian Alkitab hari ini (Titus 2:1-8) adalah terjemahan dari kata Yunani sophron, yang berarti “akal sehat”. Kebijaksanaan yang dimaksudkan adalah penguasaan diri, suatu kedewasaan dalam penilaian dan pengendalian diri yang wajar. Paulus menggunakan bentuk kata ini lima kali dalam Titus. Para penilik jemaat yang memperhatikan kerohanian umat Allah haruslah “bijaksana” (1:8). Lalu, di dalam budaya yang orang-orangnya terbiasa menjadi “pembohong, binatang buas, pelahap yang malas” (ay.12), para laki-laki dan perempuan yang beriman (2:2,5-6) harus menjadi contoh bagaimana oleh anugerah Allah mereka memilih “tidak lagi hidup berlawanan dengan kehendak Allah dan tidak menuruti keinginan duniawi”, melainkan hidup dengan “menahan diri, tulus dan setia kepada Allah” (ay.12 BIS). —Arthur Jackson

Siapakah mentor rohanimu? Siapakah yang pernah kamu bimbing? Lalu, siapa yang akan kamu bimbing nanti?

Ya Bapa, aku bersyukur untuk mereka yang pernah menjadi mentorku di saat aku sangat membutuhkan bimbingan rohani. Tuntunlah aku kepada seseorang yang mungkin butuh dorongan dariku hari ini.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate