Pages - Menu

Thursday, October 29, 2020

Tangan Seorang Supir Truk

 

Kita mempunyai karunia yang berlain-lainan . . . siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita. —Roma 12:6,8

Tangan Seorang Supir Truk

Kabar itu sangat mengejutkan. Setelah sembuh dari kanker prostat, kini ayah saya didiagnosis menderita kanker pankreas. Ini tidak mudah, karena selama ini ayah saya harus merawat ibu saya yang juga menderita penyakit kronis. Karena keduanya sekarang membutuhkan perawatan, saya sudah membayangkan betapa sulitnya hari-hari ke depan.

Setelah terbang pulang untuk mendampingi mereka, saya pergi ke gereja tempat mereka biasa berbakti. Di sana, seseorang bernama Helmut menemui saya dan menyatakan keinginannya untuk membantu. Dua hari kemudian, Helmut datang ke rumah dengan membawa catatan segala sesuatu yang kami butuhkan. “Kalian butuh makanan ketika kemoterapi sudah dimulai,” katanya. “Saya akan membuat jadwal giliran memasak. Saya bisa memotong rumput. Boleh tahu kapan jadwal pengambilan sampah?” Helmut adalah supir truk yang sudah pensiun, tetapi bagi kami ia seperti malaikat. Ia terkenal sudah banyak membantu orang—para ibu tunggal, gelandangan, kaum lansia.

Umat Tuhan memang dipanggil untuk membantu orang lain (Luk. 10:25-37), tetapi ada orang-orang tertentu yang memiliki kapasitas lebih untuk melakukannya. Rasul Paulus menyebut hal ini karunia kemurahan (Rm. 12:8). Mereka yang mempunyai karunia tersebut bisa melihat kebutuhan orang lain, mengumpulkan bantuan, dan memberikan waktu lebih untuk melayani tanpa merasa kewalahan. Dengan digerakkan oleh Roh Kudus, mereka menjadi tangan-tangan dalam tubuh Kristus yang menjangkau orang yang membutuhkan (ay. 4-5).

Ketika ayah saya menjalani kemoterapi hari pertama, Helmut yang mengantarnya ke rumah sakit. Malam itu kulkas kami penuh dengan makanan. Itulah kemurahan Allah melalui tangan seorang supir truk.—Sheridan Voysey

WAWASAN
Roma 12:2 memerintahkan orang-orang percaya untuk berubah dengan memperbarui akal budi mereka. Alangkah luar biasa bahwa hal pertama yang Paulus bahas tentang pembaruan akal budi adalah kerendahan hati (ay.3). Kerendahan hati menyenangkan hati Allah, tetapi Allah membenci kecongkakan dan keangkuhan (Yesaya 2:11; Daniel 4:37; Amos 6:8). Dengan kerendahan hati seperti itu kita akan dapat menilai dengan jernih apa saja karunia yang kita miliki (dan apa yang tidak kita miliki) sehingga semua karunia tersebut dapat berkontribusi kepada tubuh Kristus sesuai kebutuhan yang ada (Roma 12:6-8). Apa pun karunia kita, kita harus memakainya dengan sukacita dalam semangat kasih dan kerendahan hati. —Con Campbell

Karunia rohani apa saja yang kamu miliki? (Untuk menolongmu, baca Roma 12:3-8; 1 Korintus 12; Efesus 4:7-13.) Bagaimana kamu dapat menggunakan karunia-karunia itu untuk melayani sesama?

Bapa di surga, penuhilah aku dengan kemurahan-Mu, agar aku bisa melayani mereka yang berkekurangan dengan efektif dan sukacita, agar hidupku menunjukkan siapa diri-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate