Pages - Menu

Thursday, November 5, 2020

Runtuhkan Rumah Ini

 

Runtuhkanlah Rumah ini, dan dalam tiga hari Aku akan membangunnya kembali. — Yohanes 2:19 BIS

Runtuhkan Rumah Ini

Di kota Pontiac, Michigan, Amerika Serikat, sebuah perusahaan penghancur bangunan telah meruntuhkan bangunan yang salah. Para penyelidik yakin pemilik rumah yang seharusnya diruntuhkan itu memindahkan nomor rumahnya ke rumah tetangganya, supaya rumahnya tidak dihancurkan. Yesus justru melakukan yang sebaliknya. Dia membiarkan “rumah”-Nya sendiri diruntuhkan demi kepentingan orang lain. Bayangkan situasi yang terjadi dan rasa bingung dari semua orang yang mendengar perkataan-Nya, termasuk murid-murid-Nya sendiri. Bayangkan mereka berpandang-pandangan heran saat Yesus menantang para pemimpin agama: “Runtuhkanlah Rumah ini, dan dalam tiga hari Aku akan membangunnya kembali” (Yoh. 2:19 BIS). Lalu para pemimpin itu membalas Dia dengan kesal, “Empat puluh enam tahun dibutuhkan untuk membangun Rumah Tuhan ini. Dan Engkau mau membangunnya kembali dalam tiga hari?” (ay.20 BIS). Mereka tidak tahu bahwa yang dimaksud Yesus sebagai Rumah Tuhan itu adalah tubuh-Nya sendiri (ay.21). Mereka tidak mengerti bahwa Yesus telah datang untuk menunjukkan bahwa semua kejahatan dan dosa yang kita lakukan terhadap diri sendiri atau orang lain pada akhirnya akan ditanggung oleh Dia. Tuhan Yesus yang akan menebusnya bagi kita. Allah selalu mengetahui isi hati kita, lebih daripada kita sendiri. Karena itulah Yesus tidak mengungkapkan terlebih dahulu segala rencana-Nya, bahkan tidak kepada orang-orang yang menyaksikan mukjizat-Nya dan percaya kepada-Nya (ay.23-25). Perkataan Yesus tidak akan mampu kita mengerti sekalipun Dia telah mengatakannya kepada kita. Akan tetapi, baik dahulu maupun sekarang, Allah secara perlahan menyingkapkan kasih dan kebaikan yang dikehendaki-Nya atas kita.—Mart DeHaan

WAWASAN
Bait Allah megah yang dibangun oleh Salomo untuk Allah (1 Raja-Raja 6) dijarah dan dihancurkan pada tahun 586 SM. Ketika orang-orang buangan Israel kembali dari penawanan di Babel (538 SM), Bait Allah dibangun lagi di bawah pimpinan Zerubabel (sekitar 516 SM). Namun, seiring berjalannya waktu, Bait Allah yang dibangun ulang ini juga dijarah dan dihancurkan. Pada tahun 19 SM, Herodes Agung berinisiatif memperbaiki strukturnya, dan bangunan ini dikenal sebagai Bait Allah Herodes. Meskipun sudah berfungsi pada masa hidup Yesus (lihat Yohanes 2:13-22), Bait Allah tersebut baru benar-benar selesai pada tahun 64 M, tetapi kembali dihancurkan pada tahun 70 M oleh orang-orang Romawi. —Arthur Jackson

Emosi apa yang biasanya kita anggap ada dalam hati Yesus ketika Dia “menyucikan Bait Allah”? Setelah kamu mengerti maksud Yesus, apakah kamu melihat tindakan-Nya sebagai bentuk belas kasihan Allah?

Bapa Surgawi, tolonglah aku untuk percaya bahwa Engkau selalu bekerja di balik segala sesuatu, melakukan yang jauh lebih banyak—dan jauh lebih baik—daripada yang kuketahui atau kumengerti.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate