Pages - Menu

Wednesday, November 4, 2020

Waktu Bersantai

 

Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan. —Amsal 30:24

Waktu Bersantai

Ramesh senang bercerita tentang Yesus kepada orang lain. Ia tidak segan-segan bersaksi kepada rekan-rekan kerjanya, dan sebulan sekali ia pulang kampung untuk mewartakan Injil dari rumah ke rumah. Sikapnya yang antusias itu menular—terutama sejak ia belajar pentingnya bersantai dan beristirahat.

Sebelum ini, Ramesh pergi ke luar rumah memberitakan Injil setiap akhir pekan dan hampir setiap malam. Istri dan anak-anaknya merasa kehilangan saat ia pergi, tetapi ketika Ramesh berada di rumah, ia sudah sangat kelelahan. Ia merasa bahwa waktu dan kesempatan yang ada harus digunakan untuk sesuatu yang berharga. Ia tidak bisa bersantai sejenak atau sekadar ngobrol-ngobrol. Ramesh terlalu serius.

Ia baru sadar bahwa hidupnya tidak seimbang ketika sang istri menegurnya secara terus terang, ditambah nasihat teman-temannya dan sejumlah ayat Kitab Suci yang tidak diduganya. Amsal 30 menyebutkan beberapa hewan yang biasa-biasa saja—semut, ayam jantan, dan belalang. Penulis amsal menyatakan kekagumannya terhadap “cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja” (ay.28).

Ramesh heran mengapa hal-hal biasa itu ada dalam Alkitab. Untuk memperhatikan cicak dibutuhkan waktu senggang yang cukup. Ada orang yang melihat cicak berkeliaran di istana dan menganggapnya menarik, lalu menghentikan kesibukannya untuk memperhatikan lebih jauh. Barangkali Allah memasukkan hal itu ke dalam firman-Nya untuk mengingatkan kita pada pentingnya keseimbangan antara kerja dan istirahat. Kita perlu waktu untuk melamun tentang alam, bermain dengan anak, atau sekadar bersantai bersama keluarga dan teman. Kiranya Allah memberi kita hikmat untuk mengetahui kapan kita harus bekerja, melayani, dan beristirahat!—Mike Wittmer

WAWASAN
Amsal 30 adalah kumpulan perkataan “Agur bin Yake” (Amsal 30:1). Kita tidak mengetahui siapa Agur maupun ayahnya, tetapi mereka mungkin berasal dari suku Masa, yang merupakan keturunan Ismael dan tinggal di daerah utara Arab (Kejadian 25:13-14; 1 Tawarikh 1:29-31). Jika Agur dan Yake merupakan orang Masa, maka kumpulan perkataan Agur dalam Amsal 30 adalah contoh dari karakter multibudaya dari Sastra Hikmat Ibrani, yang diadopsi dan dibentuk untuk teologi umat Israel. Salah satu alasan mengapa kitab Amsal terkadang “meminjam” materi dari budaya lain adalah karena Sastra Hikmat sering mengambil pelajaran dari dunia sekitar dan pengalaman hidup pada umumnya. Pengamatan-pengamatan seperti ini bersifat universal dan mencerminkan rancangan penciptaan Tuhan yang baik. Amsal 30 mengandung pengamatan dari alam dan hubungan-hubungan sosial yang memberikan pelajaran-pelajaran untuk hidup bijaksana. —Con Campbell

Bagaimana kamu menjaga keseimbangan antara kerja dan istirahat? Apakah menurut orang-orang terdekatmu, kamu mengasihi mereka? Jika ya, atau tidak, mengapa?

Tuhan Yesus, kasih-Mu memberiku kebebasan sehingga aku dapat bekerja dengan produktif dan beristirahat dengan cukup.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate