Pages - Menu

Thursday, December 3, 2020

Hak Istimewa untuk Berdoa

 

Kepada Salomo, anakku, berikanlah hati yang tulus sehingga ia berpegang pada segala perintah-Mu dan peringatan-Mu dan ketetapan-Mu. —1 Tawarikh 29:19

Hak Istimewa untuk Berdoa

Lagu country yang dinyanyikan Chris Stapleton, ”Daddy Doesn’t Pray Anymore” (Ayah Tak Lagi Berdoa) terinspirasi dari doa-doa sang ayah baginya. Liriknya yang pedih mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa ayahnya tidak lagi berdoa: bukan karena kecewa atau bosan, tetapi karena sang ayah meninggal dunia. Stapleton membayangkan bagaimana saat ini ayahnya tidak lagi berbicara dengan Yesus dalam doa, melainkan berjalan dan berbicara secara langsung dengan Yesus.

Kenangan Stapleton atas doa-doa sang ayah untuknya mengingatkan saya pada doa seorang ayah bagi anaknya di dalam Alkitab. Menjelang kematiannya, Raja Daud menyiapkan sejumlah hal bagi anaknya, Salomo, yang akan menggantikannya sebagai raja Israel.

Setelah mengurapi Salomo di hadapan seluruh bangsa, Daud pun memimpin doa bersama seperti yang sudah sering ia lakukan. Saat menceritakan kembali kesetiaan Allah kepada Israel, Daud berdoa agar bangsa itu tetap setia kepada-Nya. Kemudian ia menyelipkan sebaris doa pribadi untuk anaknya, dengan meminta Allah memberikan Salomo “hati yang tulus sehingga ia berpegang pada segala perintah-Mu dan peringatan-Mu dan ketetapan-Mu” (1 Taw. 29:19).

Kita juga memiliki hak istimewa yang luar biasa untuk setia mendoakan orang-orang yang ditempatkan Allah dalam hidup kita. Teladan kesetiaan kita dapat meninggalkan dampak dan jejak indah yang akan tinggal tetap setelah kepergian kita. Seperti Allah terus menggenapi doa Daud bagi Salomo dan bangsa Israel lama setelah ia mangkat, demikian juga doa kita dapat memberi dampak melampaui masa hidup kita sendiri. —LISA M. SAMRA

WAWASAN
Ketika semua yang dibutuhkan untuk pembangunan Bait Allah telah terkumpul, Daud menaikkan doa pengucapan syukur kepada Allah (1 Tawarikh 29:10-19). Dalam doanya, ia menyatakan kebesaran dan keagungan Allah (ay.10-13). Ia kemudian memusatkan perhatiannya kepada kemurahan hati umat Allah dan mengakui bahwa pada akhirnya segala sesuatu berasal dari Allah dan umat hanya memberikan kembali milik-Nya (ay.14-17). Dengan memandang ke masa depan, Daud mengakui bahwa Allah yang menyertai nenek moyangnya juga menyertai mereka. Ia memohon agar Allah menjaga hati mereka tetap setia kepada-Nya dan memberi Salomo “hati yang tulus” (ay.19). —J.R. Hudberg

Bagaimana doa seseorang telah memberi dampak besar pada kehidupanmu? Bagaimana kamu dapat menguatkan sesama lewat doa-doamu?

Bapa di surga, aku membawa orang-orang yang kucintai ke hadirat-Mu dan memohon agar kiranya Engkau terus berkarya menggenapi rencana-Mu dalam hidup mereka.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate