Pages - Menu

Tuesday, December 15, 2020

Komentar yang Lemah Lembut

 

Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar. —2 Timotius 2:24

Komentar yang Lemah Lembut

Saya pernah berdebat dengan seseorang di Facebook. Salah besar. Entah mengapa bahwa saya merasa berkewajiban “mengoreksi” pemikiran seseorang yang tidak saya kenal mengenai topik panas yang tidak ada habisnya. Yang tersisa hanyalah caci maki, sakit hati (setidaknya bagi saya), dan hilangnya kesempatan menjadi saksi yang baik bagi Tuhan Yesus. Hanya itu yang diperoleh dari “marah-marah” dan caci-maki yang dilontarkan orang setiap hari di dunia maya. Seorang ahli etika menjelaskan bagaimana banyak orang keliru dengan menyimpulkan bahwa “marah-marah” merupakan cara yang umum untuk berdebat.

Rasul Paulus menasihati Timotius dengan peringatan yang sama. “Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang” (2 Tim. 2:23-24).

Nasihat bijak Paulus, yang ditulis untuk Timotius dari penjara Romawi, diberikan untuk mempersiapkan seorang gembala muda dalam mengajarkan kebenaran Allah. Nasihat Paulus tersebut juga tepat untuk keadaan kita sekarang, terutama ketika pembicaraan yang berlangsung menjurus ke masalah iman. Kita perlu “dengan lemah lembut . . . menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran” (ay.25).

Berbicara dengan lemah lembut kepada orang lain bukan hanya menjadi tanggung jawab para hamba Tuhan. Kiranya semua orang yang mengasihi Allah dan rindu bersaksi tentang Dia kepada orang lain dapat menyatakan kebenaran-Nya dengan sikap penuh kasih. Kiranya setiap kata yang kita ucapkan dan tuliskan senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus. —Patricia Raybon

WAWASAN
Dalam suratnya yang kedua kepada gembala muda Timotius, Paulus memakai beberapa kata yang tidak asing dan perlu kita selidiki lebih dalam. Dalam 2 Timotius 2:22, Paulus memberi dorongan kepada Timotius, “jauhilah nafsu orang muda.” Kata yang digunakan Paulus untuk “jauhilah” adalah pheuge, yang berarti “membebaskan diri” atau “melarikan diri.” Paulus sedang memintanya untuk menjauhi bahaya secara fisik. Di tengah pencobaan, hal terbaik yang perlu dilakukan bukanlah memberanikan diri dan bergantung kepada daya kehendak kita sendiri, melainkan melarikan diri. Kata itu juga dipakai Paulus dalam surat pertamanya kepada Timotius (6:11) ketika ia memberitahukan anak muda itu untuk menjauhi cinta akan uang. Kita juga membacanya di Matius 2:13 ketika malaikat Tuhan memerintahkan Yusuf untuk membawa bayi Yesus dan Maria lari ke Mesir. —J.R. Hudberg

Mengapa penting sebagai orang percaya kita menjauhi perdebatan di Internet (dan di konteks lain juga)? Bagaimana Roh Kudus mengubah cara komentar—dan hatimu?

Allah Bapa, ketika aku berbicara kepada orang lain tentang kebenaran-Mu—atau tentang hal-hal lainnya—kiranya hati dan lidahku diwarnai oleh kasih-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate