Pages - Menu

Wednesday, December 23, 2020

Tiada Kemewahan, Hanya Kemuliaan

 

Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. —Mazmur 63:4

Tiada Kemewahan, Hanya Kemuliaan

Hari itu, saat melihat dekorasi Natal kami yang dipenuhi hiasan-hiasan Natal yang dibuat sendiri oleh anak lelaki saya, Xavier, dan aneka ragam pernak-pernik buatan neneknya, ada perasaan tidak puas dalam diri saya. Saya tidak mengerti alasannya, karena sebelumnya saya selalu menghargai kreativitas dan kenangan yang melekat pada setiap hiasan tersebut. Lalu, mengapa ketika melihat dekorasi Natal di toko-toko, saya justru menginginkan pohon Natal dengan hiasan lampu-lampu indah yang serasi, ornamen bola-bola yang berkilauan, dan pita-pita dari kain satin?

Ketika saya berpaling dari dekorasi Natal kami yang sederhana, tanpa sengaja mata saya memperhatikan sebuah ornamen merah berbentuk hati dengan tulisan sederhana tercantum di atasnya—Yesus, Juruselamatku. Bagaimana mungkin saya telah lupa bahwa keluarga saya dan pengharapan yang saya miliki di dalam Kristus adalah alasan saya senang merayakan Natal? Pohon kami yang sederhana memang tidak seindah pohon-pohon di etalase toko, tetapi kasih yang ada di balik setiap hiasan itulah yang membuatnya indah.

Seperti pohon kami yang sederhana, Sang Mesias juga sama sekali jauh dari sosok yang dinantikan dunia (Yes. 53:2). Yesus “dihina dan dihindari orang” (ay.3). Meski demikian, untuk menunjukkan kasih-Nya yang luar biasa, Dia tetap memilih untuk “tertikam oleh karena pemberontakan kita” (ay.5). Dia dihukum supaya kita diselamatkan (ay.5). Tidak ada yang lebih indah daripada itu.

Dengan hati yang kembali bersyukur untuk dekorasi Natal kami yang tidak sempurna dan Juruselamat yang sempurna, saya berhenti merindukan kemewahan dan mulai memuji Allah untuk kasih-Nya yang mulia. Hiasan yang berkilau tidak akan pernah bisa menandingi indahnya karunia pengorbanan-Nya—Yesus Kristus. —Xochitl Dixon

WAWASAN
Kitab Yesaya adalah suatu penglihatan yang diberikan Allah dan dicatat oleh nabi Yesaya (1:1), yang namanya berarti “Yahweh adalah keselamatan.” Yesaya melayani di Yehuda selama pemerintahan Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia (1:1) dari sekitar tahun 740 sampai 680 SM. Agaknya ia tinggal di Yerusalem (7:1-3), anak Amos (1:1), menikah dengan seorang nabiah (8:3 TL), dan mempunyai dua anak yang diberi nama simbolis (7:3; 8:3). Tema pusat kitab Yesaya adalah Allah, yang melakukan segala sesuatu oleh karena Allah sendiri (48:11). Inti pesan Yesaya adalah maksud Allah yang penuh kasih karunia bagi orang-orang berdosa, seperti terlihat dalam bacaan kita hari ini dan di bagian-bagian lain dari Alkitab. —Alyson Kieda

Bagaimana kamu dapat menjadikan pujian kepada Tuhan Yesus sebagai bagian dari perayaan Natal yang kamu lakukan? Apakah arti pengorbanan-Nya di salib bagimu?

Allah yang penuh kasih, tolonglah aku untuk mampu melihat indahnya kasih yang tercermin lewat pengorbanan-Mu yang besar.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate