Pages - Menu

Wednesday, March 4, 2020

Kesetrum

Kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.—2 Petrus 1:16
Kesetrum
“Saya merasa seperti kesetrum,” kata Profesor Holly Ordway tentang reaksinya setelah membaca puisi indah karya John Donne berjudul “Holy Sonnet 14”. Ada sesuatu yang kualami lewat puisi ini, entah apa, pikirnya. Ordway mengenangnya sebagai momen istimewa ketika pemikirannya yang dahulu ateis mulai terbuka terhadap kemungkinan adanya kekuatan supernatural. Pada akhirnya, Ordway pun percaya kepada kebenaran yang mengubahkan hidup tentang Kristus yang telah bangkit.
Mungkin itu pula reaksi Petrus, Yakobus, dan Yohanes saat mereka dibawa Yesus ke puncak gunung, tempat mereka menyaksikan suatu transformasi yang spektakuler. Pakaian Kristus menjadi “sangat putih berkilat-kilat” (Mrk. 9:3) lalu muncul Elia dan Musa—inilah peristiwa yang kita sebut sebagai transfigurasi.
Waktu mereka turun dari sana, Yesus berpesan kepada mereka agar tidak bercerita kepada siapa pun tentang apa yang telah mereka lihat, sebelum Dia bangkit dari kematian (ay.9). Namun, mereka bahkan tidak tahu apa yang dimaksudkan Yesus dengan ungkapan “bangkit dari antara orang mati” (ay.10).
Sayang sekali, pemahaman para murid tentang Kristus belumlah lengkap, karena mereka tidak dapat memahami bahwa rencana Allah memang mencakup kematian dan kebangkitan Yesus. Akan tetapi, pengalaman mereka dengan Tuhan yang telah bangkit akhirnya sungguh-sungguh mengubahkan hidup mereka. Di kemudian hari, Petrus menggambarkan pertemuannya dengan Kristus yang dimuliakan di atas gunung itu sebagai masa para murid menjadi “saksi mata [pertama] dari kebesaran-Nya” (2 Ptr. 1:16).
Ketika kita mengalami kuasa Yesus, kita pun akan “kesetrum” seperti yang dialami oleh Profesor Ordway dan para murid Yesus. Ada sesuatu yang kita alami lewat pengalaman itu. Kristus yang hidup sedang memanggil kita.—Tim Gustafson
WAWASAN
Sangatlah menarik melihat Musa dan Elia bergabung dengan Yesus yang dimuliakan di atas gunung (Markus 9:4). Meskipun terpisah ratusan tahun, pelayanan Musa dan Elia memiliki banyak kesamaan. Allah memakai Musa untuk membelah Laut Merah dengan lambang otoritasnya, yaitu tongkat gembala (Keluaran 14:15-16). Sementara itu, Elia membelah Sungai Yordan dengan jubahnya—yang melambangkan kedudukannya sebagai nabi (2 Raja-Raja 2:6-8). Keduanya bertemu dengan Allah di atas Gunung Sinai/Horeb secara spektakuler (Keluaran 34; 1 Raja-Raja 19). Allah memberikan makanan melalui mukjizat untuk Musa (dan bangsa Israel) di padang gurun (Keluaran 16), dan melakukan hal yang sama untuk Elia selama kelaparan yang disebabkan oleh kekeringan yang ia nubuatkan (1 Raja-Raja 17). Selain itu, peran Musa dan Elia dilanjutkan oleh orang-orang (Yosua dan Elisa—lihat Yosua 1:1-2; 1 Raja-Raja 19:16) yang namanya sama-sama berarti “Tuhan/Allah menyelamatkan.” Pakar Alkitab, H. H. Rowley, mengatakan tentang pelayanan para pahlawan iman Perjanjian Lama ini, “Tanpa Musa, agama Yahweh seperti yang ada dalam Perjanjian Lama tidak akan pernah lahir. Tanpa Elia, agama itu akan mati.” —Bill Crowder
Pernahkah kamu mengalami momen-momen ketika kamu bertemu Allah dalam cara yang sama sekali baru? Bagaimana pengenalan kamu tentang-Nya berubah seiring waktu?
Bapa, ketika kami menghampiri Engkau dalam doa, sesungguhnya kami tidak benar-benar mengerti apa yang ada di hadapan kami. Ampuni kami karena menganggap remeh keagungan hadirat-Mu.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate