Pages - Menu

Wednesday, April 8, 2020

Allah Lebih Berharga

Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau! —Markus 10:28
Allah Lebih Berharga
Karena di masa lalu pernah disakiti hatinya oleh beberapa orang Kristen, ibu saya sangat marah ketika tahu saya percaya kepada Tuhan Yesus. “Jadi sekarang kau akan menghakimi Mama? Tak usah, ya!” Ia menutup telepon dan menolak berbicara dengan saya selama satu tahun. Saya merasa sedih sekali, tetapi juga menyadari bahwa hubungan dengan Allah jauh lebih berharga daripada hubungan dengan orang-orang yang juga saya kasihi. Setiap kali ibu saya mengabaikan telepon saya, saya berdoa dan meminta Allah agar memampukan saya tetap mengasihinya dengan baik.
Namun, akhirnya kami berdamai. Beberapa bulan kemudian, ibu saya berkata, “Mama melihatmu berubah. Sekarang Mama mau mendengar lebih banyak tentang Yesus.” Tak lama kemudian, ia pun menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan memakai sisa hidupnya untuk mengasihi Tuhan dan sesama.
Seseorang pernah berlari-lari mendapatkan Yesus untuk bertanya bagaimana ia dapat memperoleh hidup kekal, tetapi kemudian ia pergi dengan sedih karena tidak mau meninggalkan harta kekayaannya (Mrk. 10:17-22). Seperti dirinya, saya juga bergumul dengan pemikiran bahwa saya harus meninggalkan segala sesuatu demi mengikut Yesus.
Memang tidak mudah melepaskan hal-hal atau orang-orang yang kita pikir dapat lebih kita andalkan daripada Allah (ay.23-25). Namun, nilai dari semua yang kita lepaskan di dunia ini tidak akan melebihi nilai anugerah hidup kekal bersama Yesus. Allah kita yang penuh kasih telah rela mengorbankan diri-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Dia melingkupi kita dengan damai sejahtera dan melimpahi kita dengan kasih-Nya yang tak pernah berubah dan tak ternilai harganya.—Xochitl Dixon
WAWASAN
The Bible Knowledge Commentary menuliskan hal berikut tentang 2 Korintus: “Tidak ada surat Paulus yang lebih pribadi dan lebih intim daripada 2 Korintus. Dalam kitab itu ia mencurahkan isi hatinya dan menyatakan kasih setianya kepada jemaat di Korintus walaupun kasih mereka kepadanya terus berubah-ubah.” Dengan demikian, surat ini merupakan contoh menarik tentang berbagai tantangan yang Paulus hadapi dalam memimpin gereja abad pertama yang baru berkembang. Pada saat itu Paulus tidak mempunyai contoh yang bisa diikuti dan Kitab Suci pun belum lengkap untuk dijadikan acuan serta otoritas, sehingga wajarlah banyak hal yang dilakukannya dipertanyakan orang-orang di sekitarnya. Dalam surat 2 Korintus ini, motif pelayanan dan posisi kerasulan Paulus sendiri dipertanyakan—sehingga Paulus harus memberikan pembelaan terhadap motivasi dan karyanya bagi jemaat (1:12–2:11; 11:16–12:10). Di saat yang bersamaan, Paulus merasa perlu melakukan konfrontasi terhadap para pengajar palsu yang mengecilkan nilai Injil (10:7–11:15). Ketegangan yang merupakan akibat dari berbagai keadaan itu menjadikan 2 Korintus sebagai kitab yang unik. —Bill Crowder
Hal apa yang paling sulit kamu lepaskan demi mengikut Yesus? Mengapa jauh lebih mudah mengandalkan kenikmatan duniawi, harta kekayaan, atau orang lain daripada mengandalkan Tuhan?
Ya Allah, terima kasih karena Engkau mengasihi kami lebih daripada yang layak kami terima. Engkau juga mengingatkan kami bahwa diri-Mu jauh lebih berharga daripada apa pun atau siapa pun di dunia ini.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate