Pages - Menu

Thursday, April 9, 2020

Tetap di Jalan yang Benar

Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ? —Yohanes 14:5
Tetap di Jalan yang Benar
Senja sudah turun saat saya mengikuti Li Bao berjalan menyusuri bagian atas tembok besar yang membelah pegunungan di wilayah pusat Tiongkok. Saya belum pernah melewati jalan ini sebelumnya, dan tidak dapat melihat lebih dari satu langkah di depan serta seberapa curam jurang yang menganga di sebelah kiri kami. Saya hanya bisa menahan napas dan menempel erat pada Li. Saya tidak tahu ke mana kami akan pergi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan, tetapi saya mempercayainya.
Posisi saya sama seperti Thomas, murid yang kelihatannya selalu butuh diyakinkan. Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Dia harus pergi untuk menyediakan tempat bagi mereka dan mereka tahu jalan “ke mana Dia pergi” (Yoh. 14:4). Thomas kemudian mengajukan pertanyaan yang logis: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (ay.5).
Yesus tidak memadamkan keraguan Thomas dengan menjelaskan ke mana Dia akan membawa mereka. Yang Yesus lakukan hanyalah meyakinkan si murid bahwa Dialah jalan menuju ke sana. Itu sudah cukup.
Mungkin kita juga memiliki keraguan tentang masa depan kita. Tidak seorang pun tahu persis apa yang akan terjadi di depan. Hidup ini penuh lika-liku yang tidak terduga. Itu tidak apa-apa, karena mengenal Yesus saja sudah cukup—Dia yang adalah “jalan dan kebenaran dan hidup” (ay.6).
Yesus tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Yang Dia minta dari kita hanyalah berjalan dekat dengan-Nya.—Mike Wittmer
WAWASAN
Seorang anak muda yang kaya mendekati Yesus dengan keyakinan bahwa karena perbuatan baiknya ia dijamin mendapat tempat di surga (Mrk. 10:17-20). Yesus mengoreksi pemahaman anak muda itu dengan memintanya menyerahkan seluruh hartanya dan mengikut Dia untuk memperoleh “harta di surga” (ay.21). Hal itu membuat para murid berpikir. Mereka juga telah meninggalkan keluarga dan pekerjaan mereka untuk mengikuti Yesus (Mat. 4:18-22; 9:9). Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” (Mrk. 10:28). Yesus meneguhkan hati mereka dengan menyatakan bahwa mereka pasti akan menerima upah untuk pengorbanan mereka dan memperoleh apa yang diinginkan oleh anak muda kaya itu—“hidup yang kekal” (ay.17,30). Namun Dia juga mengingatkan mereka tentang bahaya tinggi hati (ay.31). Jangan sampai mereka menganggap diri mereka yang “terbesar” di kerajaan-Nya (9:33-34) karena pengorbanan, pencapaian, dan seberapa lama mereka melayani Dia. —K.T. Sim
Apa yang paling kamu khawatirkan tentang masa depan? Mengapa mengikut Yesus saja sudah cukup menjadi bekal menjalani masa depan tersebut?
Bapa, tolonglah kami menyadari bahwa dalam perjalanan kami kepada-Mu, Anak-Mulah jalannya.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate