Pages - Menu

Monday, April 6, 2020

Kekuatan Dalam Penderitaan

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran.—Matius 5:10
Kekuatan Dalam Penderitaan
Pada tahun 1948, seorang pendeta gereja bawah tanah bernama Harlan Popov diciduk dari rumahnya untuk “sekadar ditanya.” Dua minggu kemudian, ia diinterogasi sepanjang hari dan tidak diberi makan selama sepuluh hari. Setiap kali menyangkal sebagai mata-mata, ia dipukuli. Namun, Popov tidak hanya bertahan hidup setelah mengalami perlakuan kejam itu, tetapi juga membimbing para tahanan lainnya untuk mengenal Yesus. Sebelas tahun kemudian, ia akhirnya dibebaskan. Ia terus bersaksi tentang imannya kepada orang-orang dan baru dua tahun kemudian berhasil meninggalkan negaranya dan bersatu kembali dengan keluarganya. Setelah itu, selama bertahun-tahun ia aktif berkhotbah dan mengumpulkan dana untuk menyalurkan Alkitab ke negara-negara yang masih tertutup bagi iman Kristen.
Popov telah dianiaya karena imannya, sama seperti para pengikut Yesus yang tidak terhitung banyaknya dari abad ke abad. Jauh sebelum Kristus sendiri disiksa dan mati, lalu diikuti penganiayaan terhadap para pengikut-Nya, Dia sudah pernah berkata, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:10), dan kemudian, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (ay.11).
“Berbahagialah”? Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus? Yang Dia maksud adalah keutuhan, sukacita, dan penghiburan yang hanya bisa didapat dalam hubungan dengan Dia (ay.4,8-10). Popov mampu bertahan karena ia merasakan kehadiran Allah telah mengobarkan kekuatan dalam dirinya, bahkan di tengah penderitaan sekalipun. Ketika kita berjalan bersama Allah, apa pun keadaan kita, kita juga dapat mengalami damai sejahtera-Nya. Dia menyertai kita.—Alyson Kieda
WAWASAN
Dalam Roma pasal 1–3, Paulus menunjukkan bahwa umat manusia telah jatuh ke dalam dosa. Enam kali dalam pasal 3 ia menekankan penggunaan frasa “tidak ada seorangpun” atau “seorangpun tidak” untuk menunjukkan bahwa umat manusia semuanya sudah berdosa (ay.10-12). Dosa menguasai seluruh pribadi manusia—perkataan (ay.13-14), perbuatan (ay.15-17), dan hati (ay.18), semuanya mendakwa kita. Paulus menyimpulkan bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (ay.23). Tanpa karya kelahiran kembali oleh Roh Kudus, manusia tidak akan mampu memiliki hubungan yang benar dengan Allah. Kita tidak mencari Dia (ay.11) tapi sengaja menyeleweng dari-Nya (ay.12), karena “rasa takut kepada Allah tidak ada” pada kita (ay.18). Namun Allah, dalam anugerah dan belas kasihan-Nya, mengadakan pembenaran antara para pendosa dengan diri-Nya ketika kita percaya bahwa Yesus telah mengorbankan hidup-Nya dan mencurahkan darah-Nya untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa (ay.24-25).—K.T. Sim
Manakah di antara “Sabda Bahagia” dari khotbah Yesus di bukit yang paling mengena bagimu, dan mengapa? Kapan kamu merasakan damai dan kehadiran Allah di tengah pencobaan?
Bapa Mahakasih, kami mengucap syukur kepada-Mu karena Engkau tidak pernah membiarkan atau meninggalkan kami di masa-masa terkelam dalam hidup kami.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate