Pages - Menu

Thursday, July 9, 2020

Kebodohan Hidup Baru

Pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. —1 Korintus 1:18
Kebodohan Hidup Baru
Ada saja hal-hal yang terasa tidak masuk akal sampai kita mengalaminya sendiri. Saat sedang mengandung anak pertama, saya membaca sejumlah buku tentang persalinan dan mendengar cerita-cerita tentang pengalaman melahirkan dari banyak teman perempuan. Namun, saya tetap tidak dapat membayangkan seperti apa nanti pengalaman saya sendiri. Rasanya mustahil memikirkan apa yang akan terjadi dengan tubuh saya!
Paulus menulis dalam 1 Korintus bahwa kelahiran baru ke dalam Kerajaan Allah, yaitu keselamatan yang ditawarkan-Nya kepada kita melalui Kristus, sama sulitnya untuk dipahami oleh mereka yang belum mengalaminya. Mengatakan bahwa keselamatan dapat datang melalui salib—suatu kematian yang dianggap sebagai kelemahan, kekalahan, dan kenistaan—terdengar seperti sebuah “kebodohan”. Akan tetapi, justru “kebodohan” inilah keselamatan yang diberitakan oleh Paulus!
Tak seorang pun pernah membayangkan cara Allah tersebut. Sebagian orang mengira keselamatan akan datang melalui pemimpin politik yang kuat atau tanda-tanda ajaib. Sebagian lagi mengira mereka bisa diselamatkan oleh pencapaian akademis atau kepandaian hikmat mereka (1Kor. 1:22). Namun, Allah mengejutkan semua orang dengan membawa keselamatan melalui cara yang hanya masuk akal bagi mereka yang mempercayainya dan mengalaminya sendiri.
Allah memakai sesuatu yang memalukan dan lemah—kematian di kayu salib—dan menjadikannya sebagai dasar hikmat dan kekuatan. Allah melakukan yang tak terbayangkan. Dia memilih yang lemah dan bodoh dari dunia untuk memalukan orang-orang yang berhikmat (ay.27). Cara-cara-Nya yang mengejutkan dan mengherankan itu selalu merupakan cara yang terbaik.—Amy Peterson
WAWASAN
Para penulis Perjanjian Baru sendiri mempelajari Kitab Suci, dan tulisan mereka mencerminkan pengenalan mereka terhadap Perjanjian Lama. Terkadang mereka menunjukkan kaitan dengan Perjanjian Lama melalui kata-kata seperti “supaya genaplah” (Matius 1:22) atau “ada tertulis” (1 Korintus 1:19,31). Paulus menggunakan kutipan dari Yesaya dan Yeremia untuk membuka dan menutup pengajarannya di 1 Korintus 1:19-31 tentang hikmat dan kuasa Allah yang melekat dengan pekabaran Injil. Bagian tersebut dimulai dengan kutipan dari Yesaya 29:14 dan diakhiri dengan kata-kata yang didasarkan pada Yeremia 9:24, “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” —Arthur Jackson
Bagaimana Allah mengejutkanmu hari ini? Mengapa benar bahwa jalan Allah lebih baik daripada jalanmu?
Ya Allah, aku berdoa, seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Mu dari jalanku, dan rancangan-Mu dari rancanganku.

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Follow by Email

Translate